Judul

Rangkuman Bab 2 tentang Supply chain

 

 

 

 

Kelas 4KA30

Kelompok Ribet :

  1. Faisal Ariyanto (12110524)
  2. Hendy Kusuma (13110229)
  3. Hendy Prasetyo (13110231)
  4. Ade Firdiyantoro (19110458)
  5. Achmad Faisal (10110071)
  6. Idris (13110379)
  7. Muclis Ariyadi (19110046)

     

     

Abstrak

Istilah supply chain mungkin sudah kerap didengar. Didalam Bahasa Indonesia sering dijumpai tetjemahan supply chain sebagai “rantai pengadaan atau penyediaan ataupun pasokan barang dan jasa”. Pada hakikatnya supply chain adalah jaringan organisasi yang menyangkut hubungan ke hulu dan ke hilir (upstream- downstream), dalarn proses dan kegiatan yang berbeda, yang menghasilkan nilai yang berwujud dalam barang dan jasa ditangan pengguna atau konsumen akhir. Proses dan kegiatan yang berbeda tersebut melibatkan hubungan antara para pelaku, dari penghasil atau pemasok, pembuat atau pengolah, pendistribusi atau penyalur sampai kepada pengguna atau konsumen

 

Pendahuluan

Pada saat ini supply chain management menjadi sorotan dalam dunia industri. Problem pemilihan supplier merupakan salah satu isu penting, karena pemilihan supplier menjadi bagian dari sebuah supply chain maka hubungan tersebut akan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kelangsungan produksi diantaranya industri percetakan. Karena itulah pemilihan supplier menjadi fase yang paling penting pada proses pembelian percetakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

(Faisal Ariyanto)

  1. EMPAT JENJANG INTEGRATED SUPPLY CHAIN

Supply chain pada hakikatnya adalah jaringan organisasi yang menyangkut hubungan ke hulu (upstream) dan ke hilir (downstream), dalam proses dan kegiatan yang berbeda yang menghasilkan nilai yang terwujud dalam barang dan jasa di tangan pelanggan terakhir (ultimate customers). Dahulu, hubungan dengan supplier (upstreams) dan hubungan dengan wholesaler, retailer (downstreams) dianggap sebagai hubungan antar pihak yang berlainan kepentingannya dan bahkan berlawanan, sehingga kurang ada kerjasama yang erat. Akhirnya mereka mulai menyadari bahwa persaingan yang terjadi sebetulnya bukan antar perusahaan downstream dan upstream, tetapi antar supply chain yang satu dengan supply chain yang lain.

    Dalam pengembangan dari manajemen logistik ke manajemen supply chain ini terjadi empat jenjang, ada semacam evolusi sejak tahap 1 sampai tahap 4.

Tahap 1

Dalam tahap 1, ada semacam kesendirian dan ketidak-saling-tergantungan fungsi, misalnya antara fungsi produksi dan fungsi logistik.

Tahap 2

Dalam tahap 2, perusahaan sudah mulai menyadari pentingnya integrasi perencanaan walaupun dalam bidang yang masih terbatas, yaitu di antara fungsi internal yang paling berdekatan.

Tahap 3

Tahap selanjutnya yang logis diteruskan, yakni tahap 3, adalah integrasi perencanaan dan pengawasan atas semua fungsi yang terkait dalam satu perusahaan (internal integration)

Tahap 4

Tahap 4 menggambarkan tahap sebenarnya dari supply chain integration, yaitu integrasi total dalam konsep, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan (manajemen) yang telah dicapai dalam tahap 3 dan diteruskan ke upstream, yaitu suppliers dan downstreams, sampai ke pelanggan.

(Ade)

B. Perbedaan Antara Manajemen Logistik Dan Manajemen Supply Chain

Persamaanya dapat disebutkan sebagai berikut :

  • Keduanya menyangkut pengelolaan arus barang dan jasa
  • Keduanya menyangkut pengelolaan mengenai pembelian, pergerakan, penyimpanan, pengangkutan, administrasi, dan penyaluran barang.
  • Keduanya menyangkut usaha untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan barang

     

    Perbedaanya dapat disebutkan sebagai berikut :

     

MANAJEMEN LOGISTIK

MANAJEMEN SUPPLY CHAIN

Mengutamakan pengelolaan, termasuk arus barang dalam perusahaan

Mengutamakan arus barang antar perusahaan, sejak paling hulu sampai paling hilir

Berorientasi pada perencanaan dan kerangka kerja yang menghasilkan rencana tunggal arus barang dan informasi si seluruh perusahaan

Atas dasar kerangka kerja ini, mengusahakan hubungan dan koordinasi antar proses dari perusahaan-perusahaan lain dalan business pipilines, mulai dari suppliers sampai kepada pelanggan.

 

 

 

 

 

 

 

 

(Idris)

C. KEUNGGULAN KOMPETITIF

Salah satu kunci keberhasilan suatu perusahaan adalah kemampuan untuk memiliki dan mempertahankan keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang didefinisikan sebagai berikut :

Competitive advantage is a position of enduring superiority over competitors in terms of costomer prefence.

Keunggulan kompetitif dapat dicapai dengan cara manajemen logistic dan manajemen supply chain. Dasar kesuksesan dalam kompetisi dipasar terdapat beberapa macam, tapi ada satu model yang masuk akal yaitu the triangular linkage of the company atau “the three C’s” yaitu the customers, the competition and the company. Hubungan ketiganya dapat dilihat pada gambar di bawah.


 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber dari keunggulan kompetitif terletak pada kemampuan perusahaan untuk membedakan dirinya sendiri di depan mata konsumen dari para pesaingnya (value advantage), dan cara bekerja dengan biaya rendah, atau dengan kata lain memperoleh laba yang tinggi (productifity atau cost advantage).

Berikut akan dibahas kedua vector advantage yang merupakan tujuan strategis perusahaan, yaitu :

  1. Productivity Advantage

    Biasanya, makin besar volume produksi suatu barang, biaya per satuan barang akan makin kecil karena fixed cost di bagi merata dengan angka pembagi lebih besar, sedangkan variable cost per satuan barang akan tetap, sehingga total cost persatuan barang akan mengecil. Karena hal tersebut kenaikan pangsa pasar akan menaikkan volume produksi dan akan menurunkan biaya produksi persatuan barang. Namun, cara untuk menurunkan biaya produksi tidak hanya dengan menaikan pangsa pasar, tapi bias jiga dengan cara menurunkan biaya logistic.

     

  2. Value Advantage

    Sudah menjadi semacam aksioma dalam manajemen marketing bahwa konsumen tidak membeli barang/produk, tetapi mereka membeli faedah atau keuntungan tertentu(benefit). Karena hal itu apabila perusahaan tidak mampu membedakan produknya dengan produk kompetitornya, maka barang/produknya akan menjadi barang komoditas biasa dan konsumen akan membeli jenis barang tesebut dengan harganya paling murah. Untuk mendapatkan value advantage ini, suatu perusahaan harus menciptakan nilai tertentu dan harus dilakukan pada suatu segmen pasar tertentu. Segmen pasar dibagi menjadi 3, yaitu :

    1. Untuk golongan kaya.
    2. Untuk golongan menengah.
    3. Untuk golongan bawah.

    Misal, dalam pameran mobil Mercedez Benz sengaja memilih segmen pertama dengan harga tinggi. Pembeli tidak akan membeli mobil Mercedez sekedar untuk alat transportasi, tetapi l untuk menciptakan status social atau menunjukkan suatu keberhasilan tertentu. Faedah yang di tawarkan oleh mobil Mercedez adalah brand atau corporate image. Jadi, pelanggan bersedia untuk membayar mahal untuk memperoleh faedah ini. Faktor yang penting lagi dalam memperoleh value advantage adalah memberikan layanan sebaik-baiknya kedapa pelanggan. Perusahaan yang terlalu yakin bahwa perusahaannya adalah brand leader dan melalaikan layanan, suatu saat akan kehilangan keunggulan kompetitifnya.Contoh, Caterpilar(peralatan berat) dan IBM (computer), keduanya semula masing-masing leader dibidangnya masing-masing, terpakasa harus menyerah pada pesaingnnya karena mereka terlalu percaya diri sehingga melalaikan ubsur layanan ini. Kekalahan akibat kelalaian mereka sampai sekarang tidak dapat dikejar kembali. Layanan yang dapat diberikan dapat berupa layanan pengiriman, layanan purnajual, paket finansial, dukungan teknis dan sebagainya. Disinilah fungsi logistic sangan membantu memberikan layanan yang baik.

     

(Hendy Prasetyo)

Dalam prakteknya perusahaan – perusahaan yang sukses teryata terus – menerus berusaha mencari posisi dalam pasar berdasarkan kedua keungulan ini, yaitu productivity adventage dan value advantage.

Dalam hal ini manajemen logistic bisa banyak membantu, baik dalam menciptakan value advantage maupun dalam cost atau productivity adventage. Beberapa contoh yang dapat disumbangkan oleh logistic adalah sebagai berikut :

1. dalam value advantage

    * tailored services;

    * reliability;

    * responsiveness;

    * after sales service;

2. dalam productivity advantage

    * capacity utilization;

    * asset turnover;

    * partnership;

    * co-makership;

    * schedule integration;

Yang sangat penting harus diperhatikan adalah bahwa layanan akan sangat menentukan dalam membedakan perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain.

 

(Muchlis Ariyadi)

D. MENCAPAI KEUNGGULAN KOMPETITIF MELALUI LOGISTIK

Salah satu perubahan pemikiran yang besar dibidang bisnis dalam dekade terakhir ini adalah penekanan pada mencari stratrgi yang tepat, yang akan menghasilkan nilai superior dalam pandangan konsumen. Untuk itu penghargaan tinggi harus diberikan pada Michael Porter, seorang profesor dari Harvard Bussines School, yang melalui riset dan tulisannya telah memperingatkan para manajer dan strategist pada pentingnya relativas kompetitif dalam mencapai sukses dipasar.

    Aktivitas value chain dapat dikategorikan menjadi 2 tipe, yaitu primary activities dan support activities. Perlu dicermati bahwa disini jelas-jelas logistics activities masuk dalam primary activities, dan bukan support activities seperti yang masih diyakini oleh para manajer, sedangkan procurement masuk dalam support activities.

    Support activities adalah fungsi-fungsi terintegratif yang berlangsung disetiap primary activities didalam perusahaan. Keunggulan kompetitif dihasilkan dari cara suatu perusahaan mengorganisir dan melaksanakan fungsi yang tersembunyi ini didalam perusahaan. Untuk mendapatkan keunggulan kompetitif yang lebih unggul dari kompetitornya, suatu perusahaan harus menghasilkan nilai tertentu bagi para konsumennya sampai yang mungkin sama sekali tidak membutuhkan biaya, atau hanya membutuhkan biaya yang relatif sangat kecil.

    Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa perusahaan yang berhasil menjadi market leader adalah perusahaan yang mengusahakan dan berhasil mencapai dua puncak kesempurnaan, yaitu mencapai kedudukan cost leadership dan service leadership.

 

 

 

 

(Hendy Kusuma)

E. LEBIH LANJUT MENGENAI VALUE CHAIN

    Yang disebut dengan value chain adalah analisis yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan tujuan ekonomis dasar dari suatu perusahaan ialah menciptakan nilai.

    Aktifitas nilai dibagi menjadi dua dua kategori, yaitu:

  1. Primary activities

    Aktivitas iniadalah aktivitas yang menyumbang dalam hal penciptaan fisik barang hasil produksi, penjualan dan pendistribusian kepada pembeli, dan juga layanan purnajual.

     

  2. Support activities

    Aktivitas yang membantu primary activities dan membantu sama lain.

     

  • Primary Activities

     

    Primary activities juga ternagi menjadi 5 kategori :

  1. . Logistik masuk.
  2. . Operasi
  3. . Logistik keluar
  4. . Marketing dan penjualan
  5. .Layanan pelanggan.

     

  • Support Activities

     

    Ada 4 aktivitas yang termasuk disini yaitu:

  1. . Manajemen sumber daya manusia
  2. . Pengembangan teknologi
  3. . Pengadaan atau pengendalian.
  4. . Infrastruktur perusahaan.

 

(Achmad Faisal)

F. MENCAPAI KEUNGGULAN KOMPETITIF MELALUI MANAJEMEN

SUPPLY CHAIN

Sebelumnya telah dijelaskan bagaimana mencapai keunggulan kompetitif melalui aktivitas logistik yang pada hakikatnya juga menunjang aktivitas supply chain. Pada hakikatnya aktivitas supply chain adalah perpanjangan dan perluasan kegiatan logistik ke arah upstream dan downstream. Kegiatan-kegiatan dalam supply chain mendukung pencapaian keunggulan kompetitif tadi antara lain sebagai berikut :

  1. Mendukung secara umum
  • menghilangkan sikap “membangun kerajaan sendiri,” khususnya dibagian seperti marketing dan manufacturing.
  • menyadari bahwa keunggulan kompetitif perlu diusahakan agar perusahaan tetap dapat bertahan dan memelihara pangsa pasar.
  • mengembangkan manajemen logistik menjadi manajemen supply chain.
  • mengusahakan kedua advantages sekaligus, yaitu value advantages dan cost and productivity advantage.
  • mengembangkan hubungan partnership dengan organisasi upstream dan downstream.
  • mengembangkan hubungan co-makership dengan para supplier.
  • mengusahakan aliran informasi baik upstream maupun downstream secara akurat dan real time.
  • menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi yang user’s friendly.
  • melakukan pelatihan bersama dengan organisasi upstream dan downstream mengenai masalah yang menyangkut manajemen supply chain.

     

  1. Mendukung value advantages
  • mencari jenis dan tingkat layanan yang dikehendaki oleh para konsumen.
  • menciptakan dan mengembangkan tailored services yang lebih unggul berdasarkan kehendak konsumen tersebut.
  • khusus dibidang logistik, layanan dapat berupa penyediaan barang setiap kali diperlukan, waktu pengiriman yang cepat, penyediaan suku cadang, penyediaan door to door service, penyediaan transpor yang andal, dan sebagainya (realibility dan responsiveness).
  1. Mendukung productivity
    advantages
  • mengurangi inventory sampai tingkat yang direncanakan (asset
    turnover).
  • menggunakan kapasitas yang ada semaksimal mungkin (capacity
    utilization).
  • melakukan perencanaan bersama dengan semua mata rantai yang ada mengenai inventory.
  • perencanaan ini meliputi juga fungsi procurenment, inventory
    control, manufacturing, dan distribution.
  • mengoptimalkan harga pembelian barang.

Filosofi manajemen supply
chain adalah mengelola supply
of
goods sejak dari sumber bahan mentah sampai pada customers sebagai suatu kesatuan yang integratif, dan bukan mengelola supply
of
goods sebagai suatu seri dari kegiatan-kegiatan yang terpisah-pisah. Jadi, misi manajemen supply
chain :

To link the marketplace, the distribution network, the manufacturing process and the procurement activity in such a very that customers are serviced at higher levels and yet at lover cost. In other words to archive the goal of competitive advantages through both cost reduction and servisce enhancement. (Martin Christopher, 1998).

Selanjutnya Martin Christopher memberikan uraian lebih lanjut mengenai peran logistik ini sebagai berikut (lihat juga Gambar 12) :

In this scheme of things, logistics is therefore essentially an integrative concept that seeks to develop a system-wide view of the firm. It is fundamentaly a planning concept that seek to create a framework though which the needs of the market place can be translated into strategy and plan for procument. Ideally there should be a ‘one plan’ mentallity within the business which seek to replace the confentional stand-alone and seperate plans of marketing, distribution, production, and procument. This, quite simply, is the mission of logistics in supply chain management.

 


Salah satu hal yang perlu digaris bawahi adalah mengembangkan hubungan partnering dan co-makership dengan organisasi baik upstream maupun downstream. Kedua istilah ini pada hakikatnya mengenai hal yang hampir sama, namun yang satu menekankan pada “kemitraan”. (Berlawanan dengan “kemusuhan”) dan yang lainnya menekankan pada “kerjasama membuat barang bersama” (berlawanan dengan “membuat barang sendiri”) seperti dijelaskan berikut ini :

the basic philosophy of co-makership is that the supplier should be considered to be an extention of the customer’s factory. With the emphasies on continuity and a ‘seamless’ end-to-end pipeline. As the trend to out-sourcing continues so must the move towards co-makership.


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s