Bahasa Indonesia 2 – TULISAN ILMIAH

A.    TOPIK

Keterampilan Observasi
 
B.     LATAR BELAKANG
Kehidupan di sekeliling kita menyimpan banyak misteri. Kita sering menjumpai fenomena yang sering tidak kita sadari. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh sikap tidak peka terhadap gejala atau fenomena alam. Sikap tidak peka tersebut tak lepas dari pengaruh lingkungan tempat kita tinggal. Sebagian besar masyarakat memilih tinggal di kota karena akses informasi, transportasi, hiburan  dan teknologi serba mudah. Segala kemudahan yang dijanjikan oleh kehidupan kota menyebabkan waktu yang digunakan untuk sekedar mengamati gejala alam semakin berkurang. Padahal IPA merupakan suatu jawaban terhadap rasa ingin tahu manusia . Dengan demikian IPA berusaha mengungkap rahasia alam.
Sebenarnya jalan untuk mengungkap misteri alam terbuka lebar, dari SD kita sudah diajarkan tentang IPA. Tetapi kebermaknaan belajar IPA tersebut nampaknya belum menjadi kesadarann kita, bahkan guru-gurupun jika ditanya mengenai apa yang dimaksud dengan  IPA, mereka kurang dapat memberikan jawaban yang tepat. Oleh karena itu melalui kegiatan praktikum pendidikan sains diharapkan mahasiswa mendapatkan pemantapan dan pemahaman tentang metode ilmiah dalam belajar IPA. Sehingga terbentuklah kesadaran dan kebermaknaan belajar IPA dalam rangka pembentukan karakter- karakter sebagai berikut :
1.    Kesadaran adanya gejala alam
2.    Kesadaran adanya hubungan antar gejala
3.    Kesadaran adanya problem/ persoalan
4.    Kesadaran adanya cara untuk menjawab persoalan
5.    Kesadaran adanya fakta atau konsep
6.    Kesadaran adanya kesulitan dalam memecahkan masalah
7.    Kesadaran adanya sikap saling menghargai orang lain
8.    Kesadaran adanya hubungan antara manusia dan Tuhan yang maha  pencipta (IMTAQ)
 
C.    RUMUSAN MASALAH
1.    Apa perbedaan antara data dan fakta?
2.    Bagaimana membedakan antara observasi dan presepsi?
3.    Bagaimana membedakan antara data kuantitatif dan data kualitatif?
 
D.    TUJUAN
1.    Mampu membedakan antara data dan fakta.
2.    Mampu membedakan antar observasi dan presepsi
3.    Mampu melakukan observasi secara kualitatif dan kuantitatif
 
E.     TINJAUAN PUSTAKA
Ilmu Pengatahuan Alam merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan dengan kehidupan manusia.IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains sebagai suatu ilmu, ilmu pengetahuan alam mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.    Mempunyai obyek, yakni semua benda alam
2.    Mempunyai persoalan berupa fenomena alam dan latar belakang kejadiannya.
3.    Memiliki cara khas untuk mempelajarinya, yaitu dengan metode ilmiah / proses ilmiah
4.    Mempunyai produk keilmuan yang berupa fakta, konsep, prinsip, teori, dan hukum ilmiah. Produk keilmuannya bersifat sementara, artinya IPA sebagai ilmu sifat kebenarannya terbuka boleh diuji oleh siapapun kapan pun dan di mana pun.
Sains menurut Suyoso (1998:23) merupakan “pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti- hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal.” Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah- langkah ilmiah yang berupa merode ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus disempurnakan.
Pemahaman atas sains harus dilihat dari beberapa aspek pendukungnya. Nagel dalam bab pertama dalam buku Philosophy of Science Today karangan Sidney Morgenbesser (Asri Widowati, 2008 : 6) mengemukakan sains dapat dilihat dalam tiga aspek, yaitu ;
1.    Aspek tujuan, sains adalah sebagai alat untuk menguasai alam, dan memberi sumbangan kepada kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: berbagai keuntungan yang didapat dari sains dan teknologinya di bidang kesehatan dan industri.
2.    Aspek pengetahuan yang sistematik, dan tangguh dalam arti merupakan suatu hasil atau kesimpulan yang didapat dari berbagai peristiwa.
3.    Aspek metode, metode sains merupakan suatu perangkat aturan-aturan untuk memecahkan masalah, untuk mendapatkan hukum-hukum ataupun teori-teori dari objek yang diamati.
Dari aspek tujuan, maka dengan sains persoalan yang ada di balik gejala alam dapat dipecahkan sehingga memberi kebermanfaatan bagi umat manusia. Dari aspek metode, maka dengan sains lah persoalan dipecahkan dengan jalur metode yang ada.
Sementara melihat dari kacamata pendidikan IPA, IPA sendiri berkedudukan sebagai alat pendidikan yang berfungsi untuk membentuk sikap atau perilaku menuju  iman dan taqwa. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan teknologi, karena IPA memiliki upaya utuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari- hari.
 
F.     METODE KEGIATAN
1.    Bentuk Kegiatan
Dalam praktikum ini yang dilakukan oleh praktikan adalah observasi secara kualitatif dan kuantitatif.
2.    Alat dan Bahan
a.    Lilin
b.    Korek api
c.    Penggaris
d.   Stopwatch
3.    Cara Kerja
a.    Menentukan suatu tempat terbuka untuk mengadakan pengamatan
b.    Mengambil sebatang lilin
c.    Mengamati lilin yang belum dibakar meliputi panjang lilin, panjang sumbu, bentuk lilin, warna lilin, banyak untaian sumbu, jenis tali sumbu.
d.   Menggambarkan bentuk lilin secara keseluruhan sebelum dibakar
e.    Meletakkan lilin di tempat yang datar
f.     Membakar lilin dengan mengamati beberapa hal sebagai berikut,
1)   Waktu pertama korek api membakar sumbu lilin sampai menyala
2)   Waktu dimana api mulai membakar batang lilin yang berbentuk kerucut.
3)   Waktu dimana api mulai membakar batang lilin yang berbentuk tabung.
4)   Warna api dan rasa panas di sekeliling api
 g.    Perhitungan waktu menggunakan stopwatch
h.    Mematikan api kemudian mengamati kondisi lilin yang dimatikan meliputi panjang lilin, panjang sumbu, bentuk lilin, warna lilin, dan banyak untaian sumbu.
 
G.    HASIL PENELITIAN
1.    Data Hasil Pengamatan Lilin Sebelum Dibakar
No
Hasil Observasi Kualitatif
Hasil Observasi Kuantitatif
1
a.    Bentuk Lilin:
Gabungan antara bangunan berbentuk kerucut dan tabung
b.    Sudut di ujung lilin : lancip
 
a.       Panjang lilin : 18 cm
b.      Panjang sumbu lilin dari ujung sumbu yang tampak sampai bagian dasar lilin : 18,7 cm
c.       Panjang sumbu yang tampak  (di ujung lilin) : 0,6 cm
d.      Diameter lilin : 1,8 cm
e.       Jumlah untaian sumbu: 7 untaian
2
Warna lilin : Putih
 
3
Permukaan lilin : licin seperti berminyak
 
2.    Data Hasil Pengamatan Lilin Saat Terbakar
No
Hasil Observasi Kualitatif
Hasil Observasi Kuantitatif
1
Warna api:
a.    Bawah: biru
b.    Tengah: Kuning orange
c.    Atas: Kuning terang
 
a.    Waktu sumbu menyala : 22 detik
b.    Warna lilin berbentuk kerucut habis terbakar: 50 menit 40 detik
c.    Waktu lilin berbentuk tabung terbakar (sampai waktu pembakaran selesai): 10 menit 52 detik
2
Tidak ada lelehan di permukaan lilin
 
3
Permukaan api dibagian samping lebih terasa panas daripada yang ada di bagian atas,
 
4
Api semakin membesar semakin bertambahnya permukaan lilin yang terbakar
 
3.    Data Hasil Pengamatan Lilin Sesudah terbakar
No
Hasil Observasi Kualitatif
Hasil Observasi Kuantitatif
1
Terjadi perubahan bentuk pada lilin meliputi:
a.    perubahan panjang lilin (menjadi lebih pendek)
b.     perubahan warna sumbu dari putih menjadi hitam
c.    Bagian kerucut lilin meleleh dan tinggal bagian dasar lilin yang bebentuk silinder.
d.   Nampak bara api pada sumbu beberapa saat setelah api padam dan sumbu tampak mengeluarkan asap
a.     Panjang sumbu setelah dibakar: 1 cm
b.     Panjang lilin setelah dibakar 16 cm
c.     Waktu keseluruhan lilin sampai padam: 16 menit 32 detik
 
 
H.    PEMBAHASAN
Pada kegiatan praktikum bertopik keterampilan observasi ini, mahasiswa belajar dengan observasi lilin terbakar dengan tujuan agar mahasiswa mampu membedakan antara data dan fakta., mampu membedakan antara observasi dan presepsi, mampu melakukan observasi secara kualitatif dan kuantitatif. Untuk menjawab tujuan tersebut dibutuhkan pengamatan atau observasi yaitu mengamati gejala yang nampak pada objek yang digunakan tanpa ada perlakuan pada objek. Pada praktikum kali ini objek yang kami observasi adalah lilin yang dibakar. Dari sana kami mengamati fenomena atau gejala yang terjadi saat lilin belum dibakar, saat lilin dibakar, dan setelah dibakar. Tujuannya adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada lilin tersebut baik yang dapat teramati secara langsung maupun perubahan-perubahan yang memerlukan alat bantu untuk melihat perubahan tersebut. Perubahan- perubahan tersebut kami catat dalam bentuk data. Data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian
Pada kesempatan kali ini data yang kami ambil berupa data kualitatif dan kuantitatif, dimana pengertian data kualitatif adalah data yang tidak berbentuk angka diperoleh dari rekaman, pengamatan, atau bahan tertulis. Sedangkan yang dimaksud dengan data kuantitatif adalah kumpulan data yang diperoleh dengan cara melakukan pengukuran secara langsung. Contoh data kualitatif yang kami temukan sepanjang praktikum adalah:
1.    Bentuk lilin: yang merupakan gabungan dari bangun berbentuk kerucut dan tabung
2.    Warna lilin: putih keruh
3.    Permukaannya licin seperti berminyak
4.    Warna api : bagian atas berwarna kuning terang, bagian tengah berwarna kuning orange, bagian bawah berwarna biru.
5.    Ketika terbakar tidak ada lelehan di permukaan lilin
6.    Sumbu lilin yang tadinya berwarna putih berubah jadi hitam setelah dibakar
7.    Setelah lilin padam maka sumbu terlihat mengeluarkan asap dan masih tampak bara api pada sumbu beberapa saat setelah api padam.
Data di atas kami kategorikan sebagai data kualitatif karena hanya dapat di sensing menggunakan alat indera tanpa bisa diukur menggunakan alat ukur. Data kuantitatif yang kami dapatkan berupa:
1.         Panjang lilin sebelum dibakar 18 cm
2.         Panjang sumbu lilin yang tampak sebelum dibakar 0,7 cm jadi panjang keseluruhan sumbu dari ujung sumbu sampai pangkal sumbul adalah 18, 7 cm
3.         Diameter dasar lilin yang berbentuk silinder adalah 0,6 cm
4.         Jumlah helaian benang yang diulir menjadi sumbu ada 7 helai tali kenur
5.         Waktu sumbu menyala 22 detik
6.         Waktu lilin berbentuk kerucut habis terbakar 5 menit 40 detik
7.         Waktu bagian lilin yang berbentuk tabung mulai terbakar hingga padam adalah 10 menit 52 detik.
8.         Waktu keseluruhan lilin terbakar sampai dipadamkan adalah 16 menit 32 detik.
9.         Panjang sumbu setelah dibakar 1 cm
10.     Panjang lilin setelah dibakar 16 cm
Kami memilih data- data di atas sebagai data kuantitatif karena data di atas dapat diindra, dapat di ukur dengan bantuan alat ukur dan dihitung.
Setelah melakukan pengamatan dan pencatatan data kami dapat memperoleh jawaban mengapa lilin di desain sedemikian rupa mulai dari sumbu dibuat dari tali kenur, mengapa sumbu dipilin, mengapa sumbu dibuat tegak, sampai kepada desain lilin yang merupakan gabungan dari bentuk silinder yang semakin ke atas semakin mengerucut.
Secara umum pengamatan lilin dimulai dari sebelum dibakar, saat dibakar dan setelah dibakar untuk menjelaskan hal- hal sebagai berikut :
1.         Lilin terbuat dari gabungan antara kerucut dan tabung. Hal ini untuk memudahkan proses terbakarnya lilin.
2.         Pada saat lilin dibakar tidak muncul lelehan karena posisi lilin saat dibakar tegak lurus sehingga yang terbakar pertama kali adalah sumbu, dan lilin belum terkena api
3.         Suhu di atas lilin lebih panas daripada disekitar lilin pada jarak yang sama hal ini karena bentuk api mengkerucut sehingga tekanan panas di bagian atas lebih tinggi daripada sekelilingnya
4.         Perubahan warna sumbu merupakan akibat dari proses pembakaran dan menyisakan warna hitam dari karbon
Dalam kegiatan praktikum kali ini, kami mendapatkan dua jenis data yang memiliki perbedaan satu sama lain. Data kualitatif adalah data yang dikategorikan menurut kondisi atau kualitas objek yang diamati sehingga dapat diperoleh dari rekaman maupun pengamatan tanpa menggunakan alat ukur. Pendek kata, data kualitatif diperoleh dari deskripsi ataupun narasi dari suatu objek. Data ini seringkali disebut dengan data non numerik karena penyajiannya bukan berupa angka melainkan kondisi yang teramati dari suatu objek. Sehingga, sifat data kualitatif adalah subjektif sebab tidak memiliki patokan yang universal. Sebagai contoh salah satu data kualitatif yang kami peroleh yakni warna lilin menurut kami adalah putih keruh. Bila diasumsikan orang lain belum melihat lilin yang kami punya, sementara kami telah menyebut warna lilin adalah putih keruh. Beragam bayangan akan warna putih keruh pasti muncul dalam benak orang-orang yang belum melihat warna lilin sesungguhnya. Kata “keruh” mungkin dideskripsikan layaknya warna yang kotor atau warna hitam yang pucat dalam benak mereka. Apabila setelah itu kami perlihatkan lilin sesungguhnya, mungkin mereka sependapat atau bahkan berbeda pendapat. Hal ini dikarenakan warna tidak memiliki patokan yang pasti. Memang kita mengenal warna yang pasti di dunia ini yaitu mejikuhibiniu tetapi dari satu warna saja memiliki intensitas brightness, saturation, dan hue yang berbeda sehingga akan muncul warna hijau daun, hijau kebiruan dan sebagainya. Kita menyebut kesemua warna itu berdasarkan apa yang pernah kita lihat dan kita sematkan pada objek yang sedang kita hadapi. Sehingga dalam hal ini warna tidak dapat benar-benar mutlak diukur.
Sementara data kuantitatif merupakan data yang dapat dilihat dengan indera dan diukur dengan menggunakan alat ukur yang bersifat universal sehingga penyajiannya berupa angka. Dengan demikian, data ini bersifat objetif karena memiliki patokan yang bersifat umum dalam skala internasional. Misalnya data kuantitatif yang kami peroleh salah satunya adalah panjang lilin setelah dibakar yakni 16 cm. Panjang merupakan besaran pokok dengan satuan internasional adalah meter (m). Alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur panjang misalnya mistar, jangka sorong. Sehingga panjang adalah data kuantitatif karena memenuhi persyaratannya yakni dapat diindera, diukur menggunakan alat ukur yang bersifat universal, dan disajikan dalam bentuk angka.
Dari keseluruhan data yang didapatkan maka kita bisa menunjukkan bahwa sesederhana apapun suatu benda yang kita amati di alam, akan tampak banyak sekali fakta yang memberi karakteristik pada benda tersebut. Fakta-fakta ini akan menjadi sebuah data yang utuh jika dituliskan baik dalam bentuk tabel, diagram maupun grafik. Pada dasarnya kita agak sulit membedakan antara fakta dan data, perbedaan mendasar antara keduanya adalah  penuangannya dalam tulisan.
Pada praktikum ini kita juga dapat mengetahui bahwa proses observasi adalah proses pencarian fakta dari suatu fenomena yang ditunjukkan oleh suatu benda. Observasi sangat berbeda dengan persepsi, yang hanya berdasarkan kemungkinan dan pendapat orang lain, bukan berdasarkan fakta yang teramati.
I.       HASIL DISKUSI
1.      Jelaskan perbedaan data dan fakta !
Data adalah kumpulan dari fakta atau angka atau segala sesuatu yang dapat dipercaya kebenarannya sehingga dapat digunakan sebagai dasar penarikan simpulan. Sementara fakta adalah hal yang diamati menggunakan alat indera yang dipercaya kebenarannya dimana fakta memberi karakteristik pada objek yang ada.
2.      Jelaskan perbedaan data kualitatif dengan data kuantitatif !
a.       Data kualitatif adalah data yang dikategorikan menurut kondisi atau kualitas objek yang diamati, data yang tidak berbentuk angka diperoleh dari rekaman, pengamatan, atau bahan tertulis. Sedangkan yang dimaksud dengan data kuantitatif adalah kumpulan data yang diperoleh dengan cara melakukan pengukuran secara langsung.
b.      Data kuantitatif bersifat objektif sedangkan data kualitatif bersifat subjektif.
 
J.      KESIMPULAN
1.    Data adalah kumpulan dari fakta atau angka atau segala sesuatu yang dapat dipercaya kebenarannya sehingga dapat digunakan sebagai dasar penarikan simpulan. Sementara fakta adalah hal yang diamati menggunakan alat indera yang dipercaya kebenarannya dimana fakta memberi karakteristik pada objek yang ada.
2.    Observasi adalah proses pencarian fakta dari suatu fenomena yang ditunjukkan oleh suatu benda sementara persepsi adalah pengungkapan fenomena suatu benda yang didasarkan pada pendapat ataupun sudut pandang yang dimiliki seseorang.
3.    Data kualitatif adalah data yang dikategorikan menurut kondisi atau kualitas objek yang diamati sehingga dapat diperoleh dari rekaman maupun pengamatan tanpa menggunakan alat ukur sehingga bersifat subjektif.  Sedangkan data kualitatif adalah data yang dapat dilihat dengan indera dan diukur dengan menggunakan alat ukur yang bersifat universal sehingga penyajiannya berupa angka. Sifat data kuantitatif adalah objektif.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s